Undang Adhyono
  • Depan
  • Kategori
    • Cerpen
    • Sport
    • Tips and Tricks
    • World
  • Undang?
Home » World » Orang Yang Paling Kaya Menurut Alqu'an dan Sunnah

Orang Yang Paling Kaya Menurut Alqu'an dan Sunnah


حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِر○أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu , sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At Takasur : 1-2)

Dilihat dari sudut kacamata ekonomi, orang yang paling kaya mungkin adalah yang paling banyak uang atau hartanya, walau pun ia tidak beriman dan bertakwa serta walaupun kikirnya luar biasa. Namun kenyataan membuktikan orang yang begelimang harta dan yang mempunyai uang simpanan dalam jumlah fantastis di berbagai bank besar, banyak juga yang gelisah, misalnya dicekam perasaan takut mati yang berlebihan. Di sisi lain, bahkan ada hartawan yang berhubungannya dengan pasangan hidupnya tak harmonis, selalu diterpa badai rumah tangga yang tak berakhir. Menurut kacamata tauhid, hartawan seperti ini pada hakikatnya miskin, walaupun uang dan hartanya tak terhitung jumlahnya.

                Tentang kaya dan miskin, menurut Alquran dan Sunnah, ada manusia yang miskin di dunia dan miskin pula di akhirat. Sebaliknya ada pula yang kaya di dunia juga kaya di akhirat. Ironisnya ada pula yang kaya di dunia, miskin di akhirat. Tentang orang yang miskin di akhirat Al-Imam At-Tirmidzi di dalam sunannya, (NO. 2342) meriwayatkan bahwa Abu Hurairah RA mengabarkan bahwa Rasulullah SAW pernah pada suatu hari bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian siapa orang yang muflis (bangkrut dalam konteks Islam)?” Para sahabat menjawab “Orang yang bangkrut menurut kami ya Rasulullah, ia orang yang tidak mempunyai dirham (uang) dan (tak punya) harta benda”. Rasulullah SAW berkata:  “Orang yang bangkrut di kalangan umatku ialah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa (pahala) shalat, shaum (puasa) dan zakat, tetapi ia datang dengan membawa (dosa) memaki si A, menuduh si B, memakan harta si C (termasuk memakan uang hasil utang yang di niatkan untuk tidak dibayar), menumpahkan darah si D dan memukul si E, maka diambil kebaikannya lalu diberikan orang yang di zaliminya. Kalau ternyata kebaikannya sudah habis, sedang dosanya masih ada, maka dosa orang yang di zaliminya itu dipikulkan kepadanya, lalu akhirnya dilemparlah ia ke dalam neraka....”.(HR.Muslim).

                Orang yang bangkrut (muflis) yang dimaksudkan oleh hadis di atas, yaitu seseorang ketika hidup di dunia mungkin saja kaya harta, tetapi di akhirat menjadi muflis atau miskin. Kalau diharuskan memilih, jauh lebih baik miskin didunia, asal berbahagia di akhirat dengan masuk surga, dari pada di dunia kaya raya (banyak harta), tetapi di akhirat menjadi muflis, sehingga menderita lahir batin dengan derita yang lisan dan tulisan takkan mampu mengungkapkan betapa berat dan dahsyatnya.

                Dalam konteks ini Nabi SAW bersabda: “Siapa yang mendzalimi saudaranya, baik menyangkut kehormatan saudaranya itu atau apasaja, maka hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari ini (di dunia) sebelum (datang suatu hari dimana) tidak ada lagi dinar dan tidak pula dirham (untuk menebus kesalahan yang di lakukan pada hari kiamat). Bila ia memiliki amal saleh, amal tersebuat diambil darinya sesuai kadar kezalimannya (untuk diberikan kepada rang yang dizaliminya sebagai tebusan/pengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya). Namun bila ia tidak mempunyai kebaikan maka diambil dosa-dosa orang yang pernah di dzaliminya, lalu dipikulkan kepadanya”. (HR,. Bukhari).

                Lebih baik miskin di dunia
                Berdasarkan hadist di atas, dapat dikatakan bahwa menurut kacamata Islam, lebih baik miskin di dunia, asal kaya di akhirat dari pada kaya di dunia, tetapi miskin di akhirat.
                Di dalam hadist lain mengatakan, bahwa Rasulullah SAW pernah memohon al-ghinna (kaya) kepada Allah SWT, lafaznya ialah: “Allahumma innii as-aluka hudaa wat-tuqaa wal’afaafa wal ghina”. (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk ketakwaan, dberikan sifat ‘afaaf dan al-ghina). (HR. Muslim).
                Kata al-ghina termasuk kata yang muli makna, yang salah satu maknanya ialah kekayaan. Tetapi di dalam hadist dikatakan bahwa yang di katakan oleh ghina ialah ghinan nafs kata jiwa. Nabi SAW bersabda: “Kekayaan bukan karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati”.

                Makna ini sejalan dengan makna hadist yang diriwayatkan Ibn Hiban, Abu Dzar RA berkata: “Rasulullah SAW berkata padaku: “Wahai Abu Dzar menurutmu, apakah banyaknya harta yang dinamakan kekayaan?” “Benar”, jawab Abu Dzar. Nabi bertanya lagi: “Apakah menurutmu sedikitnya harta berarti fakir?” “Betul”, Abu Dzar menjawab dengan serupa. Nabi lalu bersabda: “Sesungguhnya kekayaan adalah kayanya hati (hati selalu merasa cukup), sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati selalu merasa tidak puas)”

                Tidak Mengharapkan
                Hal itu sejalan pula dengan apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib RA: “Kekayaan  terbesar adalah tidak mengharapkan apa yang ada di tangan manusia”. Orang yang benar-benar mempertuhankan dan mentauhidkan Allah SWT, hanya mengharapkan apa yang ada pada Allah dan tidak mengharapkan apa yang ada pada manusia. Maka orang yang bertauhid berarti orang kaya.

                Tentang makna al-‘afaaf di dalam hadist di atas, An-Nawawi-RHM mengatakan: “Al-afaaf di dalam hadist ini bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak di perbolehkan, sedangkan al-ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang di sisi manusia”. (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17 41).

                Masih tentang kaya hati, ulama mengatakan : Kaya hati adalah merasa cukup terhadap apa yang engkau butuhkan. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari juga, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), tetapi miskin hati.

                Hal ini sejalan dengan ucapan Al-Imam An-Nawawi RHM: “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus menambahnya. Siapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah kekayaan yang sudah ada, ia tentu tidak pernah merasa puas dan ia berarti bukan orang yang kaya hati”.

                Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Sebab Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda: “Tidak apa-apa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa lebih baik dari kaya. Dan Bahagia itu bagian dari kenikmatan”.

                Tidak pernah merasa cukup
                Kaya harta itu tidak tercela. Yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah SWT berikan. Pada hal Abdullah bin Amir bin Al-‘Ash mengabarkan Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sangat beruntung rang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya”. (HR. Muslim No. 1054). Semoga Allah menganugerahi kita akan al-ghina, sehingga hati kita merasa cukup dan bersyukur terhadap apa yang diberikan-Nya.

                Di Komunitas tertentu, orang yang paling dihormati terkadang bukan orang yang paling banyak uangnya. Semakin banyak uangnya biasanya akan semakin tinggai penghargaan masyarakat terhadap dirinya walaupun ia bukan seorang hamba dermawan yang memberikan banyak kontribusi terhadap masyarakat lemah yang membutuhkan bantuan. Padahal manusia yang paliing mulia di sisi Allah bukan paling banyak hartanya bukan pula yang paling inggi tingkat penddikan formalnya, tetapi yang lebih tinggi tingkat takwanya, sebagaimana firman Allah SWT: “...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-Hujuraat 49:13).

                Tapi sombong dan kikir
                Seorang hartawan muslim, hartanya berlimpah ruah, tapi sombog, dan kikir. Kekayaan hartanya tidak pernah digunakan di jalan Allah, sekali pun ia menolong orang selalu mempunyai tujuan yang menguntungkan bagi dirinya. Orang seperti ini tidaklah lebih mulia dibandingkan dengan orang yang hidupnya sederhana, tapi kepeduliannya terhadap orang miskin dan agamanya sangat tinggi. Orang seperti ini di hadapan Allah, lebih mulia, karena di rinya bermanfaat bagi masyarkat banyak, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang aling bermanfaat bagi manusia”.

                Apa guna kaya raya, jika manfaatnya terhadap sesama tak ada? Hadis dengan makna yang hampir sama berbungi: “Semua makhluk adalah jaminan Allah, maka yang paling dicintai Allah diantara mereka adalah yang paling bermanfaat bagi makhluk-Nya”. (HR. At-Thabrani dan Abu Ya’la).

                Di zaman ini, banyak kita temui orang muslim yang kaya akan harta tetapi sangat kikir. Dalam prinsip hidupnya, selalu ingin menerima, tapi sangat berat untuk memberi . Banyak contoh yang terjadi di hadapan kita dan itu sudah biasa terjadi dan manusia menerimanya sebagai hal yang wajar. Seorang yang ingin mencari kerja di perusahaan-perusahaan, kantor-kantor atau bahkan sebagai pembantu rumah tangga. Mereka harus mampu mengeluarkan biaya yang cukup besar yang disebut pugli (ungutan liar) agar dapat di terima bekerja. Atau orang miskin yang tidak mampu berobat, untuk mendapatkan biaya berobat gratis dari pemerintah harus membayar pula untuk mendapatkan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) tersebut yang memang seharusnya menjadi hak mereka. Bukankah mereka pemungli itu hartanya lebih banyak, tetapi mereka selalu meminta kepada orang miskin. Sungguh orang-orang seperti ini sangat tidak bermanfaat bagi manusia yang lain. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda:  “Sebaik-baik kalian adalah orang yang dari dirinya dapat diharapkan kebaikan (seperti infa)”. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah RA). “Walau pun kaya, kalau tak berinfaq, tak ada manfaatnya”. (HR. Thabrani).

                Tentang orang yang paling kaya, Rasulullah SAW berpesan: “Bersikap ridhalah engkau terhadap apa yang dibagikan Allah untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya...”. Marilah kita menjadi hamba Allah yang paling kaya dengan meningkatkan tauhid dan takwa kita kepada Allah SWT, sehingga kita mampu bersikap ridha terhadap semua ketentuan Allah SWT terhadap diri kita, termasuk rizki yang ttelah ditentukan-Nya untuk kita .

Wallahu a’lam bishshsawab.
H.Mawardi Abd.Wahid - Jakarta


Share to

Facebook Google+ Twitter Digg
Diposting oleh Unknown di Jumat, Mei 09, 2014
Label: World

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Copyright Undang Adhyono - Editor by Undang