حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِر○أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu , sampai kamu
masuk ke dalam kubur.”
(QS. At Takasur : 1-2)

Dilihat dari sudut kacamata
ekonomi, orang yang paling kaya mungkin adalah yang paling banyak uang atau
hartanya, walau pun ia tidak beriman dan bertakwa serta walaupun kikirnya luar
biasa. Namun kenyataan membuktikan orang yang begelimang harta dan yang mempunyai
uang simpanan dalam jumlah
fantastis
di berbagai bank besar, banyak juga yang gelisah, misalnya dicekam perasaan
takut mati yang berlebihan. Di sisi lain, bahkan ada hartawan yang
berhubungannya dengan pasangan hidupnya tak harmonis, selalu diterpa badai
rumah tangga yang tak berakhir. Menurut kacamata tauhid, hartawan seperti ini
pada hakikatnya miskin, walaupun uang dan hartanya tak terhitung jumlahnya.
Tentang
kaya dan miskin, menurut Alquran dan Sunnah, ada manusia yang miskin di dunia
dan miskin pula di akhirat. Sebaliknya ada pula yang kaya di dunia juga kaya di
akhirat. Ironisnya ada pula yang kaya di dunia, miskin di akhirat. Tentang
orang yang miskin di akhirat Al-Imam At-Tirmidzi di dalam sunannya, (NO. 2342)
meriwayatkan bahwa Abu Hurairah RA mengabarkan bahwa Rasulullah SAW pernah pada
suatu hari bertanya kepada para sahabat: “Tahukah
kalian siapa orang yang muflis (bangkrut dalam konteks Islam)?” Para
sahabat menjawab “Orang yang bangkrut
menurut kami ya Rasulullah, ia orang yang tidak mempunyai dirham (uang) dan
(tak punya) harta benda”. Rasulullah SAW berkata: “Orang
yang bangkrut di kalangan umatku ialah orang yang pada hari kiamat datang
dengan membawa (pahala) shalat, shaum (puasa) dan zakat, tetapi ia datang
dengan membawa (dosa) memaki si A, menuduh si B, memakan harta si C (termasuk
memakan uang hasil utang yang di niatkan untuk tidak dibayar), menumpahkan
darah si D dan memukul si E, maka diambil kebaikannya lalu diberikan orang yang
di zaliminya. Kalau ternyata kebaikannya sudah habis, sedang dosanya masih ada,
maka dosa orang yang di zaliminya itu dipikulkan kepadanya, lalu akhirnya
dilemparlah ia ke dalam neraka....”.(HR.Muslim).
Orang
yang bangkrut (muflis) yang
dimaksudkan oleh hadis di atas, yaitu seseorang ketika hidup di dunia mungkin
saja kaya harta, tetapi di akhirat menjadi muflis
atau miskin. Kalau diharuskan memilih, jauh lebih baik miskin didunia, asal
berbahagia di akhirat dengan masuk surga, dari pada di dunia kaya raya (banyak
harta), tetapi di akhirat menjadi muflis,
sehingga menderita lahir batin dengan derita yang lisan dan tulisan takkan
mampu mengungkapkan betapa berat dan dahsyatnya.
Dalam
konteks ini Nabi SAW bersabda: “Siapa
yang mendzalimi saudaranya, baik menyangkut kehormatan saudaranya itu atau
apasaja, maka hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari
ini (di dunia) sebelum (datang suatu hari dimana) tidak ada lagi dinar dan
tidak pula dirham (untuk menebus kesalahan yang di lakukan pada hari kiamat).
Bila ia memiliki amal saleh, amal tersebuat diambil darinya sesuai kadar
kezalimannya (untuk diberikan kepada rang yang dizaliminya sebagai
tebusan/pengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya). Namun bila ia tidak
mempunyai kebaikan maka diambil dosa-dosa orang yang pernah di dzaliminya, lalu
dipikulkan kepadanya”. (HR,. Bukhari).
Lebih baik miskin di dunia
Berdasarkan hadist di atas,
dapat dikatakan bahwa menurut kacamata Islam, lebih baik miskin di dunia, asal
kaya di akhirat dari pada kaya di dunia, tetapi miskin di akhirat.
Di
dalam hadist lain mengatakan, bahwa Rasulullah SAW pernah memohon al-ghinna
(kaya) kepada Allah SWT, lafaznya ialah: “Allahumma
innii as-aluka hudaa wat-tuqaa wal’afaafa wal ghina”. (Ya Allah, aku meminta
pada-Mu petunjuk ketakwaan, dberikan sifat ‘afaaf dan al-ghina). (HR.
Muslim).
Kata al-ghina termasuk kata yang muli makna,
yang salah satu maknanya ialah kekayaan. Tetapi di dalam hadist dikatakan bahwa
yang di katakan oleh ghina ialah ghinan nafs kata jiwa. Nabi SAW bersabda: “Kekayaan bukan karena banyaknya harta,
tetapi kekayaan adalah kaya hati”.
Makna
ini sejalan dengan makna hadist yang diriwayatkan Ibn Hiban, Abu Dzar RA
berkata: “Rasulullah SAW berkata padaku: “Wahai
Abu Dzar menurutmu, apakah banyaknya harta yang dinamakan kekayaan?” “Benar”, jawab Abu Dzar. Nabi bertanya
lagi: “Apakah menurutmu sedikitnya harta
berarti fakir?” “Betul”, Abu Dzar
menjawab dengan serupa. Nabi lalu bersabda: “Sesungguhnya kekayaan adalah
kayanya hati (hati selalu merasa cukup), sedangkan fakir adalah fakirnya hati
(hati selalu merasa tidak puas)”
Tidak Mengharapkan
Hal itu
sejalan pula dengan apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib RA: “Kekayaan
terbesar adalah tidak mengharapkan apa yang ada di tangan manusia”.
Orang yang benar-benar mempertuhankan dan mentauhidkan Allah SWT, hanya
mengharapkan apa yang ada pada Allah dan tidak mengharapkan apa yang ada pada
manusia. Maka orang yang bertauhid berarti orang kaya.
Tentang
makna al-‘afaaf di dalam hadist di atas, An-Nawawi-RHM mengatakan: “Al-afaaf di dalam hadist ini bermakna
menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak di perbolehkan, sedangkan
al-ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang di
sisi manusia”. (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17 41).
Masih
tentang kaya hati, ulama mengatakan : Kaya hati adalah merasa cukup terhadap
apa yang engkau butuhkan. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari juga, maka
itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), tetapi miskin hati.
Hal ini
sejalan dengan ucapan Al-Imam An-Nawawi RHM: “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, yang selalu merasa puas dan tidak
tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan
banyaknya harta dan terus menerus menambahnya. Siapa yang terus mencari dalam
rangka untuk menambah kekayaan yang sudah ada, ia tentu tidak pernah merasa
puas dan ia berarti bukan orang yang kaya hati”.
Namun
bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Sebab Rasulullah SAW dalam hal ini
bersabda: “Tidak apa-apa dengan kekayaan
bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa lebih baik dari
kaya. Dan Bahagia itu bagian dari kenikmatan”.
Tidak pernah merasa cukup
Kaya harta itu tidak
tercela. Yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah)
dengan apa yang Allah SWT berikan. Pada hal Abdullah bin Amir bin Al-‘Ash
mengabarkan Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya
sangat beruntung rang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan
Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya”. (HR.
Muslim No. 1054). Semoga Allah menganugerahi kita akan al-ghina, sehingga hati
kita merasa cukup dan bersyukur terhadap apa yang diberikan-Nya.
Di
Komunitas tertentu, orang yang paling dihormati terkadang bukan orang yang
paling banyak uangnya. Semakin banyak uangnya biasanya akan semakin tinggai
penghargaan masyarakat terhadap dirinya walaupun ia bukan seorang hamba
dermawan yang memberikan banyak kontribusi terhadap masyarakat lemah yang
membutuhkan bantuan. Padahal manusia yang paliing mulia di sisi Allah bukan
paling banyak hartanya bukan pula yang paling inggi tingkat penddikan
formalnya, tetapi yang lebih tinggi tingkat takwanya, sebagaimana firman Allah
SWT: “...Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-Hujuraat
49:13).
Tapi sombong dan kikir
Seorang hartawan muslim,
hartanya berlimpah ruah, tapi sombog, dan kikir. Kekayaan hartanya tidak pernah
digunakan di jalan Allah, sekali pun ia menolong orang selalu mempunyai tujuan
yang menguntungkan bagi dirinya. Orang seperti ini tidaklah lebih mulia
dibandingkan dengan orang yang hidupnya sederhana, tapi kepeduliannya terhadap
orang miskin dan agamanya sangat tinggi. Orang seperti ini di hadapan Allah,
lebih mulia, karena di rinya bermanfaat bagi masyarkat banyak, sebagaimana
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik
manusia adalah yang aling bermanfaat bagi manusia”.
Apa
guna kaya raya, jika manfaatnya terhadap sesama tak ada? Hadis dengan makna
yang hampir sama berbungi: “Semua makhluk
adalah jaminan Allah, maka yang paling dicintai Allah diantara mereka adalah
yang paling bermanfaat bagi makhluk-Nya”. (HR. At-Thabrani dan Abu Ya’la).
Di
zaman ini, banyak kita temui orang muslim yang kaya akan harta tetapi sangat
kikir. Dalam prinsip hidupnya, selalu ingin menerima, tapi sangat berat untuk
memberi . Banyak contoh yang terjadi di hadapan kita dan itu sudah biasa
terjadi dan manusia menerimanya sebagai hal yang wajar. Seorang yang ingin
mencari kerja di perusahaan-perusahaan, kantor-kantor atau bahkan sebagai
pembantu rumah tangga. Mereka harus mampu mengeluarkan biaya yang cukup besar
yang disebut pugli (ungutan liar)
agar dapat di terima bekerja. Atau orang miskin yang tidak mampu berobat, untuk
mendapatkan biaya berobat gratis dari pemerintah harus membayar pula untuk
mendapatkan Jamkesmas (Jaminan
Kesehatan Masyarakat) tersebut yang memang seharusnya menjadi hak mereka.
Bukankah mereka pemungli itu hartanya
lebih banyak, tetapi mereka selalu meminta kepada orang miskin. Sungguh
orang-orang seperti ini sangat tidak bermanfaat bagi manusia yang lain. Padahal
Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang dari
dirinya dapat diharapkan kebaikan (seperti infa)”. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan
Ibnu Hibban dari Abu Hurairah RA). “Walau
pun kaya, kalau tak berinfaq, tak ada manfaatnya”. (HR. Thabrani).
Tentang
orang yang paling kaya, Rasulullah SAW berpesan: “Bersikap ridhalah engkau terhadap apa yang dibagikan Allah untukmu,
niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya...”. Marilah kita menjadi
hamba Allah yang paling kaya dengan meningkatkan tauhid dan takwa kita kepada
Allah SWT, sehingga kita mampu bersikap ridha terhadap semua ketentuan Allah
SWT terhadap diri kita, termasuk rizki yang ttelah ditentukan-Nya untuk kita .
Wallahu a’lam
bishshsawab.
H.Mawardi Abd.Wahid -
Jakarta